Udah Tahun 2014 Lagi

Postingan terakhir di blog saya ini dibuat tanggal 19 Februari 2013, dan ternyata itu adalah tulisan saya satu-satunya di tahun 2013, karena sekarang sudah menginjak tahun 2014. Duhhh, ngga kerasa banget, kayak tiba-tiba langsung tahun 2014 aja. Saya jadi ingin sedikit flashback apa saja yang terjadi/saya lakukan di tahun 2013 lalu.

Januari, tahun baruan 2013 di Makassar, di rumah GM FRM VII. Makan-makan, maen gapleh, disuruh nyanyi-nyanyi bareng yang lainnya. Dulu kalo udah ada YKS, pasti disuruh goyang Caesar, haha.

Februari, pindah ditempatkan di Medan, di posisi yang (namanya sih) nyambung dengan background pendidikan saya. Nggak punya background pengetahuan yang mendukung ditambah gak ada minat di bidang ini, membuat saya cuma ngikutin apa yang disuruh aja karena nggak paham apa yang bisa dan harus saya kerjakan. Boro-boro punya inisiatif/solusi proaktif, mau ngerespon masalah aja mikir berkali-kali, nanya kiri-kanan, depan-belakang, atas-bawah. Tapi ya sudah lah, walaupun saya merasa rugi dan kecewa teradap Perusahaan karena merasa ditempatkan di posisi yang keliru, Perusahaan lah yang sebenernya lebih rugi, karena membayar Pekerja yang tidak bisa kerja optimal di posisi itu. Waktu awal-awal di Medan, ngekos di di kosan dekat kantor, di lantai 4, tiap hari naik-turun tangga 4 lantai. Paling capek kalo udah turun di bawah mau keluar, ada yang lupa ketinggalan di kamar, duhh, sukses lah bikin pembenaran gak perlu lagi olahraga karena udah rutin ‘olahraga’ naik-turun tangga minimal 4 lantai tiap hari. (more…)

Read More »

Mencicipi Indahnya Tanjung Bira

Tanjung Bira Biew

Akhirnya kesampaian juga saya buat tulisan ini. Sudah hampir dua bulan saja saya tidak meng-update blog saya ini. Padahal, keinginan untuk membuat tulisan yang ini sudah ada sejak akhir tahun 2012 yang lalu, sejak saya mengunjungi Tanjung Bira. Tapi karena satu dan lain hal, karena saya juga mendapatkan musibah di Tanjung Bira ini, serta domisili saya yang pindah-pindah dua bulan ini (Makassar, Jakarta, Bandung, Medan) membuat saya agak malas untuk menulis lagi, hehe. Oke deh, cukup prolognya, langsung saja bahas judul tulisan ini, mumpung sedang mood menulis (baca: gak ada kerjaan :p).

Tanjung Bira ini terletak di Sulawesi Selatan, tepatnya di Kabupaten Bulukamba, sekitar 4-5 jam perjalanan darat dari Kota Makassar.  Alhamdulillah pada 29-30 Desember 2012 lalu saya berkesempatan untuk jalan-jalan ke Tanjung Bira. Sebelum pergi ke Tanjung Bira, tentunya saya mencari tahu dulu seperti apa Tanjung Bira itu, ada apa saja di sana, dan bisa main apa saja di sana. Salah satu tulisan yang saya baca waktu itu adalah tulisan ini, yang membuat saya sangat bersemangat dan tidak sabar untuk segera ke Tanjung Bira. Pasir putih yang lembut, air laut yang jernih, berenang bersama penyu, dan terumbu karang yang indah membuat saya sangat tidak sabar ingin segera ke sana.

(more…)

Read More »

Efisiensi?

Mengingat masalah efisiensi saya langsung teringat dengan contoh kasus salah kaprah hemat energi yang pernah saya ceritakan di tulisan beberapa minggu lalu. Nah, beberapa hari yang lalu saya mendengar cerita teman saya yang cukup membuat saya jadi kepikiran masalah efisensi (lagi.) Kali ini yang saya bahas bukan masalah efisiensi energi, tapi masalah pemaknaan efisiensi itu sendiri dari sudut pandang kita.

Jadi ceritanya temen saya itu berangkat dinas. Karena satu dan dua hal, keberangkatan dinasnya itu cukup mendadak. Malam hari harusnya dia sudah berangkat take-off ke ibukota yang ada seberang pulau sana, karena esok paginya harus menghadiri sebuah acara. Namun, di siang harinya dia belum juga mendapatkan tiket pesawat, karena penerbangan untuk malam itu sudah habis semua, mengingat malam itu adalah malam menjelang long weekend. Singkat cerita, dia dapet tiket dari calo yang emang udah ngeborong tiket-tiket (kelas ekonomi) malam itu. Jadi sebenernya si tiket habis gara-gara diborong calo, bukan emag dibeli oleh calon penumpang yang akan berangkat. (more…)

Read More »

The MacGyver Way

MacGyver-Meme

Secara alamiah, kita pasti mengharapkan kondisi ideal pada hidup kita. Tentu kita sudah sama-sama menyadari bahwa tidak mungkin hidup yang kita jalani ini berjalan ideal tanpa ada masalah yang mengganggu. Namun, sering kali tetap saja kita mengeluh dan menyalahkan kondisi yang tidak ideal ini sebagai penyebab kegagalan atau penghambat produktivitas kita. Bahayanya, tindakan mengeluh dan menyalahkan ini seringkali tidak menyelesaikan masalah, justru membuat masalah semakin terlihat rumit, karena terkesan jauh dari yang bisa diharapkan.

MacGyver adalah seorang karakter dari serial TV yang cukup populer di Indonesia, kalo tidak salah di RCTI, mungkin sekitar tahun 97-an (lupa tepatnya, pookoknya pas saya masih SD lah). Keunikan karakter MacGyver adalah kemampuannya untuk menyelesaikan masalah dengan alat yang apa adanya di lokasi, walau bukan peruntukan aslinya. Nah, di sini saya akan membahas cara berpikir MacGyver dalam menghadapi dan menyelesaikan masalah yang saya sebut dengan “The MacGyver Way”, agar menyerupai salah satu buku di bidang teknik dan manajemen industri yang sempat sangat populer beberapa tahun lalu “The Toyota Way”, hehe. Eh iya, sedikit OoT, setelah booming buku “The Toyota Way”, saya juga banyak melihat banyak melihat buku yang berjudul “The *blablabla* Way”, seperti “The Honda Way”, “The Bill Gates Way”, dan sebagainya. Sama-sama numpang tenar kali ya, hehe.

(more…)

Read More »

Menjadi Sobat Bumi, Menjaga Keharmonisan dengan Lingkungan

SObat Bumi Intuition

“… Jika sang bumi bisa bicara
Kutahu ia akan bertanya
Sampai kapankah kau hanya terima
Tanpa pernah beri kembali
Kini saatnya untuk berbuat
Memberi apa yang dia butuhkan
Tanah air udara kan bersuka
Hidup harmoni tetap terjaga …”

~ Nugie & Katon Bagaskara – Jika Bumi Bisa Bicara

Sumber energi yang kita gunakan saat ini sebagian besar merupakan sumber energi fosil yang tak dapat diperbaharui. Kendaraan bermotor menggunakan bahan bakar minyak. Listrik yang kita gunakan banyak yang dibangkitkan dengan memanfaatkan pembakaran batu bara. Dilihat dari proses pembentukannya, sumber energi fosil tidak serta merta terbentuk. Namun, beberapa teori1 menjelaskan bahwa sumber energi fosil tersebut dibentuk dari proses yang berlangsung selama jutaan tahun.

Di awal tulisan saya ini, saya memasukkan penggalan lirik lagu “Jika Bumi Bisa Bicara” dari adik-kakak Nugie dan Katon Bagaskara. Walau tidak sepopuler lagu “Kalau Bulan Bisa Ngomong”, namun pesan dari lagu tersebut sangat mendalam mengenai perilaku kita terhadap bumi. Sederhananya, jka sumber energi yang kita nikmati saat ini berasal dari proses dari jutaan tahun yang lalu, apa yang sudah kita lakukan untuk anak-cucu kita jutaan tahun yang akan datang? Atau setidaknya untuk beberapa puluh tahun ke depan.

Pentingnya Energi

Perkembangan teknologi membuat hidup kita semakin praktis, ada kendaraan bermotor yang mempermudah kita berpindah tempat, ada komputer yang mempermudah kita bekerja atau belajar, ada ponsel yang membuat kita mudah berkomunikasi, dan sebagainya. Jika 100 tahun lalu ketergantungan masyarakat pada energi mungkin hanya untuk kepentingan membuat api (memasak, cahaya, memanaskan suhu, dsb), saat ini kita sangat bergantung pada energi di berbagai aspek keseharian.

Ketika melakukan perjalanan atau bepergian ke suatu tempat, pasti kita tidak lupa membawa charger untuk gadget yang kita bawa. Bahkan, untuk mempertimbangkan pemilihan tempat duduk di tempat umum atau pemilihan tempat tidur di kamar yang dihuni bersama, kedekatan dengan sumber listrik mungkin sudah menjadi salah satu pertimbangan utama. Ya, kita sudah sangat bergantung pada energi.  Jika kita menginap beberapa malam bersama teman-teman dan di lokasi tersebut hanya terdapat 1 colokan listrik, pasti colokan listrik tersebut akan selalu diperebutkan. Itulah mungkin analogi yang bisa digunakan untuk menggambarkan jika terjadi kelangkaan sumber energi. Terlebih, tidak hanya colokan listrik saja, bagaimana jika sumber energi secara keseluruhan sudah sangat terbatas dan langka?

Keberlanjutan Persediaan Energi dan Keberlanjutan Lingkungan Hidup

Isu penghematan energi menyangkut pada dua hal, yakni keberlanjutan persediaan energi itu sendiri dan keberlanjutan lingkungan hidup akibat dari pemakaian energi kita. Sebagian besar energi yang kita gunakan berasal dari bahan bakar fosil yang tidak dapat diperbaharui (atau lebih tepatnya butuh proses jutaan tahun), dan semakin menipis. Teknologi semakin berkembang, populasi manusia semakin banyak, dan produksi mesin-mesin/alat-alat yang menggunakan bahan bakar fosil semakin tinggi. Sedangkan, cadangan sumber energi di dalam bumi tidak bertambah.

Hari ini mungkin kita masih bisa menikmati bahan bakar minyak dengan mudah, bahkan dengan subsidi pemerintah. Saya menggunakan kata ‘mungkin’ karena tidak semua masyarakat di Indonesia dapat menikmati bahan bakar minyak tersebut dengan mudah, di beberapa daerah kadang terdengar berita kelangkaan BBM. Jika kondisi ini dibiarkan, perilaku konsumsi BBM seperti saat ini, bahan bakar fosil menjadi sumber energi utama, populasi manusia yang akan melonjak, bagaimana kondisi 50 tahun ke depan? Produksi minyak nasional setiap tahunnya semakin menurun. Terlebih, dua dari tiga produsen migas terbesar di Indonesia adalah perusahaan asing2. Oleh karena itu, keberlanjutan persediaan energi yang terus dapat dinikmati anak-cucu kita menjadi salah satu isu yang ditinjau dalam penghematan energi.

Tidak hanya pada menipisnya cadangan sumber energi, penggunaan energi fosil ini memberikan dampak pada lingkungan. 20 tahun lalu mungkin belum terasa, kendaraan bermotor masih sedikit, serta hutan, pepohonan, dan lahan hijau masih terbentang.  Namun kini dampak polusi dari kendaraan bermotor sudah sangat terasa, terutama di kota-kota besar padat penduduk (dan kendaraan bermotor). Jakarta misalnya, hawa udara panas di sana berbeda dengan di Makassar, walau sama-sama panas. Mungkin disebabkan oleh banyaknya polutan dari penggunaan bahan bakar dan terbatasnya lahan hijau. Sehingga penghematan energi yang kita lakukan dapat memberikan dua manfaat sekaligus, yakni menjaga ketersediaan energi untuk masa depan dan mengurangi kerusakan lingkungan akibat dari penggunaan energi fosil.

Hemat Energi atau Hemat Uang?

Perilaku hemat energi memiliki manfaat yang sangat besar, bahkan untuk diri kita sendiri. Hemat energi berarti melakukan aktivitas dengan energi yang lebih efisien. Jika energi yang digunakan lebih efisien, tentunya kita pun bisa mengeluarkan uang dengan lebih hemat. Namun, sering kali terjadi salah kaprah di antara kita mengenai kaitan antara penghematan energi dan penghematan uang. Betul, dengan melakukan penghematan energi, kita dapat melakukan penghematan uang. Namun tidak setiap penghematan uang adalah penghematan energi.

Sebagai contoh, misalnya kita menggunakan sepeda motor untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Jika sebelumnya menggunakan bahan bakar Pertamax (misal harga Rp 9.000,-/liter) sebanyak 7 liter per minggu, maka uang yang dikeluarkan untuk bahan bakar adalah sebesar Rp 63.000,-. Lalu, kita mengganti bahan bakar yang digunakan menjadi Premium (harga Rp 4.500,-/liter). Biaya per liter untuk bahan bakar yang kita keluarkan menurun 50%, bisa jadi membuat perilaku berkendaraan kita justru semakin boros, misal penggunaan bahan bakar dalam seminggu menjadi 10 liter (Rp 45.000,-). Biaya yang kita keluarkan secara keseluruhan untuk bahan bakar tetap lebih rendah daripada sebelumnya, walaupun perilaku berkendara kita semakin boros bahan bakar. Masih banyak di antara kita yang merasa benar, dan bahkan merasa bangga dengan “gaya hidup hemat” semacam ini. Padahal, sumber energi yang dihabiskan semakin banyak, polutan yang dihasilkan semakin tinggi, dan yang pasti menghabiskan subsidi negara lebih besar. Biaya produksi per liter bahan bakar Premium yang dikeluarkan oleh Pertamina jauh lebih tinggi daripada harga jual resmi Premium di SPBU, selisihnya disubsidi oleh pemerintah.

Menyederhanakan Langkah, Klise, Namun Tetap Saja Sulit

Menyikapi isu energi dan lingkungan ini, banyak langkah yang perlu dilakukan, dimulai dari mencari sumber energi alternatif yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan, persiapan (riset) teknologi untuk penggunaan sumber energi baru, reboisasi hutan, penanaman pohon dan penambahan ruang terbuka hijau di tengah kota, dan sebagainya. Langkah tersebut terlihat sederhana di tulisan namun sulit untuk dipraktekkan, karena melibatkan banyak pihak dan kepentingan yang berbeda. Namun, dari tataran individu, keluarga, atau komunitas kecil pun banyak langkah sederhana yang bisa dilakukan. Langkah-langkah tersebut mungkin terlihat klise dan membosankan karena sudah sangat sering kita dengar, walau masih minim praktek. Membuang sampah pada tempatnya,  memperbaiki perilaku berkendara dan penggunaan energi, serta ikut menjaga kelestarian alam adalah langkah sederhana yang bisa kita lakukan dari sekarang. Sangat klise, namun perlu diingat bahwa masyarakat kita masih jauh dari perilaku tersebut.

Perubahan perilaku masyarakat akan efektif berubah jika sebagian besar masyarakat sudah menyadari pentingnya perilaku ini. Aturan dari hukum positif saja tidak akan efektif jika masyarakatnya belum peduli. Seperti saat ini, Perda larangan buang sampah sembarangan di beberapa kota sudah ada, namun nihil dalam pelaksanaannya. Salah satu cara untuk penyadaran ini adalah dengan memberikan apresiasi kepada masyarakat yang sudah menjadi sobat bumi yang ramah lingkungan, dan sebaliknya ‘menghujat’ masyarakat yang berperilaku merusak lingkungan. Konsep reward and punishment ini diharapkan membudayakan malu ketika berperilaku merusak lingkungan dan bangga ketika menjadi sobat bumi yang ramah lingkungan. Dengan semakin populernya media sosial dan canggihnya gadget yang kita miliki, kita bisa dengan mudah men-share dan melakukan reward and punishment terhadap perilaku masyarakat tersebut. Seperti yang saya lihat beberapa hari yang lalu dari tweet Kang Ridwan Kamil3, dan dari tanggapan terhadap tweet tersebut, sepertinya cukup efektif untuk mengundang kepedulian masyarakat terhadap lingkungan. Jika kita adalah sobat bumi, maka musuh bumi adalah musuh kita juga. Jadi, marilah kita manfaatkan media sosial kita (twitterfacebookinstagram, dsb) untuk membantu membudayakan perilaku ramah lingkungan. :)

“(Alam) Indonesia ini bukanlah warisan dari nenek moyang kita, tapi titipan untuk anak cucu kita…”

=====

1) http://www.chem-is-try.org/materi_kimia/kimia-smk/kelas_xi/proses-pembentukan-minyak-bumi/

2) http://news.liputan6.com/read/455780/ini-dia-tiga-produsen-migas-terbesar-di-indonesia

3) https://twitter.com/ridwankamil/status/274418184096980992 (more…)

Read More »

Eureka!

Tak perlu terlalu serius. Tak perlu terlalu dipikirkan. Mendekatlah pada Yang Maha Kuasa. Eureka! Anugerah yang wajib disyukuri.

Tak perlu waktu khusus. Tak perlu mengkhususkan waktu. Jika Ia berkehendak, maka terjadilah.

Tak perlu terlalu dipikirkan tak berarti tak perlu dipikirkan. Pikirkanlah terus, tapi jangan bergantung pada pemikiranmu.

Tak boleh terkurung, namun tak perlu menembus batas. Karena batas itu tidak ada. Terbanglah bebas.

Barisan kalimat di atas adalah kicauan saya di twitter kemarin malam. Saya membuat tweet tersebut karena pada hari Jumat berkah kemarint, saya memperoleh ide untuk tema KKW (sejenis karya tulis) saya. Walau belum menjadi topik yang berarah, apalagi menjadi judul, tapi setidaknya ide tema tersebut memberikan optimisme untuk pengerjaan KKW saya tersebut. Beginning is always the hardest. Sudah lebih dari dua minggu saya mencoba mencari tema yang akan saya ambil untuk KKW,  dan belum mendapatkan ide juga. Tanpa tema yang jelas, tentu saja tidak ada yang bisa dilakukan untuk pengerjaan KKW ini, selain mencari ide untuk tema.

Teringat kisah Archimedes dengan perkataan yang sangat popolernya, “Eureka!” yang berarti “Saya menemukannya!”, dimana inspirasi datang ketika Archimedes sedang berendam. Dari air yang meluber ketika mulai merendamkan badan ke dalam bak, Archimedes memperoleh inspirasi yang selanjutnya dikembangkan menjadi Hukum Archimedes. Begitu pun halnya dengan Isaac Newton, apel yang jatuh pun bisa menjadi inspirasi untuk merumuskan Hukum Gravitasi Newton. Air yang meluber dan apel yang jatuh tentu saja adalah hal yang umum, bukan hal yang baru dan istimewa. Banyak orang yang menyaksikan air meluber dan apel jatuh, tapi hanya Archimedes dan Isaac Newton yang memperoleh inspirasi. Mengapa? Karena mereka berpikir dan mau berpikir.

Apakah dengan mengandalkan berpikir saja sudah cukup? Tentu belum cukup. Coba kita lihat kembali kisah Archimedes, misalnya. Beliau adalah seorang peneliti kerajaan, dan mempunyai laboratorium khusus tempat dimana beliau bekerja. Namun, inspirasi tidak datang di tempat yang dikhususkan untuk ‘produktif’ tersebut, melainkan di kamar mandi, ketika berendam. Tak perlu waktu khusus, tak perlu tempat khusus, jika memang sudah waktunya inspirasi itu datang, maka datang lah.

So, untuk menemukan ide, tidak ada cara yang baku. Tidak bisa dengan terus-menerus berpikir saja, ide akan datang. Berpikir tentu perlu, tapi yang lebih penting adalah membuka pikiran, membuka cakrawala, membuka mata, membuka hati, seluas-luasnya. Never think out of the box, because there is no box. Terbanglah bebas, arungi langit inspirasi dan temukan anugerah dari Yang Maha Kuasa. Mendekatlah pada Yang Maha Kuasa, berpikirlah, merdekalah, maka inspirasi akan datang.

Ide itu liar. Sulit diukur dan tak bisa diprediksi. Jika dikurung ia akan berontak. Jika dilepas ia akan menghilang. Catching ideas is an art.

(more…)

Read More »

Memasang Switch Lampu Rem Belakang Footstep Underbone

Sebenarnya tulisan ini telah saya buat sekitar 8 bulan lalu, tapi tidak di blog, melainkan di thread “Serba-serbi Suzuki Shogun-Arashi Series (All Variant)“. Daripada tenggelam, tidak ada salahnya saya dokumentasikan kembali di blog ini. :D

Berikut tulisan saya dulu, gak pake prime ID sih :P . (saya copas saja ya, jadi bahasanya agak aneh, bahasa kaskus, hehe)

Malem SSAR,,

Beberapa minggu lalu ane semept nanya di sini ttg masang switch rem belakang buat underbone, tapi blom ada yg pake ternyata, kbanyakan ga dipake switchremnya soalnya. :D

Ane ijin share masang switch rem belakang step underbone yaa (Motor ane shogun 125 SP 2007)..

1. Pertama, lepas dulu switch rem dari posisi awalnya, tggal dicabut.. (more…)

Read More »

Memindahkan Blog/Web WordPress ke Hosting & Domain Berbeda

Setelah melalui proses feedback berkali-kali dalam waktu yang cukup lama, akhirnya salah satu web yang saya desain selesai juga. Pada proses perancangan dan feedback, web berbasis wordpress tersebut saya upload di hostingan blog ini dengan memakai subdomain dari   mozuqi.com. Web (dari masih kasar) tersebut harus langsung di-upload untuk memudahkan proses feedback. Pekerjaan ini adalah pekerjaan re-design (walaupun jadinya mengganti total), perusahaan telah memiliki web yang dibuat sekitar 2 tahun yang lalu. Kekurangan dari web yang lama tersebut adalah terlalu statis, baik dari segi estetika tampilan ataupun dari segi konten, serta tidak muncul di Google SERP untuk kata kunci core business perusahaan. Nah, saya ditugaskan untuk mendesain web baru yang tidak lagi memiliki kekurangan itu. Keputusan akhirnya, web yang saya desain itu menggunakan CMS wordpress, karena SEO-friendly, mudah melakukan update konten ke depannya, memfasilitasi multi user/admin/subscriber, serta memungkinkan kustomisasi tampilan (membuat template) yang dinamis dan menarik. Web  itu tidak langsung di-upload ke hosting tempat web lamanya karena  hak akses dan status kepemilikan domain masih ada di tangan orang lain. Sayangnya, orang yang 2 tahun lalu mengurus web tersebut sudah tidak lagi kerja di perusahaan ini, jadi butuh waktu untuk menghubunginya.

Intronya sudah cukup, sekarang fokus ke cara memindahkan blog/web wordpress ke hosting dan domain yang berbeda. Secara umum, tahapan yang saya lakukan ada tiga, tidak perlu ada tahapan konfigurasi akhir seperti ketika memindahkan ke server lokal. Ketiga tahap tersebut adalah:

  • A) Download database dan wp-content dari hosting lama
  • B) Instalasi wordpress di hosting baru
  • C) Penyesuaian database

Langsung saja saya bahas satu persatu detail tahapannya. (more…)

Read More »

Memindahkan WordPress Hosting ke Localhost

Beberapa hari yang lalu, saya ingin sedikit meng-custom tampilan themes wordpress yang saya pakai ini. Jika dilakukan langsung secara online, saya takut jika ada kesalahan tidak ada backup-nya.  Kemudian saya terpikir untuk melakukan sunting themes secara offline melalui localhost. Dalam melakukan pemindahan tersebut, diperlukan perhatian pada setiap langkah yang dilakukan, karena jika ada salah sedikit bisa jadi error karena databasenya tidak terhubung atau ada kesalahan lainnya. Langkah-langkah yang saya lakukan dalam memindahkan wordpress hosting ke localhost ini merujuk pada tulisan di blog ini. Namun, ada beberapa penyesuaian pada langkah yang saya lakukan karena perbedaan localserver yang digunakan, versi wordpress yang digunakan, dsb.

Secara umum, tahapan yang saya lakukan ada empat, yakni:

  • A) Download database dan wp-content dari wordpress hosting.
  • B) Instalasi wordpress di localhost
  • C) Penyesuaian database
  • D) Konfigurasi akhir

Baiklah, langsung saja ke penjelasan detail setiap tahapan tersebut. (more…)

Read More »

Kemudahan Transaksi Menggunakan BCA

Kemudahan Transaksi BCA

Tren dunia teknologi informasi dan internet saat ini berkembang dengan sangat pesat. Tidak hanya sebagai media informasi dan komunikasi, saat ini internet pun telah menjadi media jual-beli barang dan/atau jasa. Saat ini, sudah sangat banyak situs yang memfasilitasi pengguna internet untuk menjual atau membeli suatu barang/jasa, baik situs lokal (buatan Indonesia) ataupun situs luar negeri.

Salah satu  elemen dasar yang mendukung “pasar online” ini adalah sistem pembayaran. Tanpa adanya tatap muka antara penjual dan pembeli secara langsung, otomatis uang pembayaran transaksi pun tidak bisa diberikan secara tunai dengan menggunakan uang kartal. Berdasarkan pengalaman saya dari hampir 2 tahun yang lalu mulai mencoba membeli produk di internet, kepemilikan atas rekening bank dan layanan yang ditawarkan bank tersebut merupakan hal sangat penting dalam bertransaksi online.

Kepemilikan rekening bank tentu saja mutlak dibutuhkan karena tidak mungkin uang pembayaran kita dikirimkan melalui jasa kurir seperti pengiriman barang pesanan kita. Namun, tidak hanya sekedar memiliki rekening, kita harus memiliki rekening dari bank yang memberikan layanan yang kita butuhkan untuk kemudahan transaksi kita. Sistem jual-beli online terbentuk karena adanya kebutuhan masyarakat pada transaksi yang praktis, tidak terbatas oleh jarak atau tidak mengharuskan pembeli dan penjual bertatap muka secara langsung. Oleh karena itu, kita harus mencermati benefit yang kita peroleh dari bank yang kita pilih. (more…)

Read More »

sidebar 2

Footer 3

sidebar3

sdsdsd
Copyright © 2016 mozuqi.com